Pada waktu kecil Sri Sultan Hamengkubuwono IX (selanjutnya HB IX) bernama
raden Mas Dorojatun. Satu hal yang mungkin dipandang tidak biasa, Dorojatun
sejak berumur 4 tahun sudah dititipkan pada keluarga Belanda untuk mendapatkan
asuhan yang maju. Oleh keluarga Belanda yang mengasuhnya, Dorojatun kecil
diperlakukan sebagai anak Belanda dan disebut Henkie. Dalam keluarga itu,
Henkie mengenal dan mempraktikkan tata cara hidup orang-orang Belanda.
Setelah tamat Europeese Lagere School (ELS, Sekolah Dasar untuk Anak
Eropa), Dorojatun meneruskan pelajaran ke Hogere Burger School (HBS, gabungan
SMP dan SMA) di Semarang dan kemudian di Bandung. Lalu pada tahun 1931
berangkat ke Belanda untuk meneruskan pelajaran Gymnasium (setingkat SMA) untuk
mempersiapkan diri memasuki Rijkuniversiteit di Leiden, mengambil jurusan
Indologi (Ilmu tentang Indonesia) dan kemudian ekonomi. Ketika menjadi jelas
Perang Dunia II akan pecah sementara ayahnya, HB VIII, merasa agak kurang
sehat, Dorojatun dipanggil pulang pada tahun 1939. HB VIII menyambut kedatangan
putranya di Jakarta. Dan menjadi nyata bahwa Dorojatun akan menjadi
penggantinya ketika HB VIII memberikan keris Jaka Piturun, salah satu pusaka
karaton Yogyakarta kepadanya. Bagi masyarakat Jawa, penyerahan suatu pusaka
karaton oleh raja kepada putranya dianggap sebagai mandat, dalam hal itu
pengangkatannya sebagai putra mahkota.
Pendidikannya dalam sekolah-sekolah modern di Indonesia dan Belanda sangat
jelas membentuk kepribadiannya. Sekolah-sekolah itu biasa dianggap sebagai
sumber pandangan yang modern. Oleh karena itu, ia memiliki wawasan yang tampak
begitu maju meninggalkan wawasan kebanyakan bangsawan, bahkan orang Jawa pada
umumnya.

