Tanah Air Indonesia

Tanah Air Indonesia
Merajut kembali ke-Indonesia-an

Rabu, 17 Oktober 2012

Biografi Sultan HB IX: Nasionalisme seorang Sultan

Pada waktu kecil Sri Sultan Hamengkubuwono IX (selanjutnya HB IX) bernama raden Mas Dorojatun. Satu hal yang mungkin dipandang tidak biasa, Dorojatun sejak berumur 4 tahun sudah dititipkan pada keluarga Belanda untuk mendapatkan asuhan yang maju. Oleh keluarga Belanda yang mengasuhnya, Dorojatun kecil diperlakukan sebagai anak Belanda dan disebut Henkie. Dalam keluarga itu, Henkie mengenal dan mempraktikkan tata cara hidup orang-orang Belanda.

Setelah tamat Europeese Lagere School (ELS, Sekolah Dasar untuk Anak Eropa), Dorojatun meneruskan pelajaran ke Hogere Burger School (HBS, gabungan SMP dan SMA) di Semarang dan kemudian di Bandung. Lalu pada tahun 1931 berangkat ke Belanda untuk meneruskan pelajaran Gymnasium (setingkat SMA) untuk mempersiapkan diri memasuki Rijkuniversiteit di Leiden, mengambil jurusan Indologi (Ilmu tentang Indonesia) dan kemudian ekonomi. Ketika menjadi jelas Perang Dunia II akan pecah sementara ayahnya, HB VIII, merasa agak kurang sehat, Dorojatun dipanggil pulang pada tahun 1939. HB VIII menyambut kedatangan putranya di Jakarta. Dan menjadi nyata bahwa Dorojatun akan menjadi penggantinya ketika HB VIII memberikan keris Jaka Piturun, salah satu pusaka karaton Yogyakarta kepadanya. Bagi masyarakat Jawa, penyerahan suatu pusaka karaton oleh raja kepada putranya dianggap sebagai mandat, dalam hal itu pengangkatannya sebagai putra mahkota.

Pendidikannya dalam sekolah-sekolah modern di Indonesia dan Belanda sangat jelas membentuk kepribadiannya. Sekolah-sekolah itu biasa dianggap sebagai sumber pandangan yang modern. Oleh karena itu, ia memiliki wawasan yang tampak begitu maju meninggalkan wawasan kebanyakan bangsawan, bahkan orang Jawa pada umumnya.

Selamat Datang

Selamat datang di Gardu Sejarah, wahana membuka wawasan ke-SEJARAH-an Nusantara sebagai wujud cinta akan Tanah Air Indonesia.
kalau bukan kita, siapa lagi yang peduli..
kalau tidak dari sekarang, apa lagi yang kita tunggu..

"hanya satu bangsa yang menjadi negeriku,
ia tumbuh dan hidup karena Usaha,
dan Usaha itu adalah Aku"